Kolaborasi atau Eliminasi? Masa Depan Dukun Beranak dalam Sistem Kesehatan

Dilema antara melestarikan peran atau mengeliminasinya telah menjadi isu krusial dalam upaya mewujudkan Sistem Kesehatan Nasional yang terpadu. Figur tradisional ini memegang peran penting di daerah-daerah terpencil, di mana akses terhadap fasilitas kesehatan modern masih sangat terbatas. Namun, praktik mereka seringkali dianggap berisiko dan bertentangan dengan standar medis global.

Kebijakan pemerintah saat ini cenderung mengarahkan persalinan ke fasilitas layanan kesehatan formal seperti Puskesmas dan Rumah Sakit, yang merupakan bagian integral dari Sistem Kesehatan Nasional. Tujuannya jelas: menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Tekanan untuk mencapai target ini secara otomatis menempatkan praktik Dukun Beranak di bawah sorotan ketat, bahkan mendorong upaya eliminasi praktik tanpa pengawasan.

Namun, pendekatan eliminasi murni seringkali tidak efektif dan menimbulkan resistensi sosial. Di banyak komunitas, hubungan antara ibu hamil dan Dukun Beranak didasarkan pada ikatan kepercayaan dan budaya yang kuat, yang tidak dapat digantikan hanya dengan fasilitas modern. Di sinilah Kearifan Lokal berperan sebagai penyeimbang yang perlu dipertimbangkan dalam strategi kesehatan.

Solusi yang paling inklusif adalah Kemitraan Bidan-Dukun. Model ini mengakui peran Dukun Beranak sebagai fasilitator rujukan dan pendukung budaya, bukan sebagai penolong persalinan utama. Mereka bertugas mendampingi ibu hamil selama kehamilan dan merujuk mereka ke bidan atau Puskesmas saat persalinan, sebuah pendekatan yang mendukung Sistem Kesehatan Nasional secara cerdas.

Melalui kemitraan ini, Dukun Beranak mendapatkan pelatihan mengenai tanda bahaya kehamilan dan praktik kebersihan. Dengan demikian, pengetahuan tradisional mereka dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan cakupan layanan kesehatan. Mereka menjadi perpanjangan tangan program kesehatan pemerintah, membantu mempromosikan pentingnya persalinan yang aman dan higienis.

Integrasi ini sangat penting untuk memastikan akses yang merata di seluruh wilayah Indonesia, sejalan dengan prinsip Sistem Kesehatan Nasional. Dengan adanya kolaborasi, hambatan geografis dan kultural dapat diminimalisir. Ibu-ibu di pelosok desa yang ragu ke Puskesmas akan lebih mudah diyakinkan melalui perantara yang mereka percaya dan hormati.

Masa depan Dukun Beranak bukanlah tentang penghapusan, melainkan tentang transformasi peran. Mereka harus berevolusi dari penolong persalinan menjadi kader kesehatan yang bertugas menjaga ibu hamil, mengidentifikasi risiko, dan memastikan ibu mendapatkan perawatan medis profesional. Transformasi ini menjamin keselamatan tanpa menghapus warisan budaya.

Kesimpulannya, keberhasilan Sistem Kesehatan Nasional Indonesia dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi akan sangat bergantung pada kemampuannya merangkul dan mengelola peran Dukun Beranak. Kolaborasi yang menghargai Kearifan Lokal sambil menjunjung tinggi keselamatan medis adalah jalan tengah terbaik untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.