Pemerintah pusat melalui kementerian terkait secara resmi mengumumkan bahwa Proyek Rehabilitasi Sekolah bagi institusi pendidikan yang terdampak bencana banjir di wilayah Sumatra mulai berjalan pada bulan Februari 2026 ini. Langkah cepat ini diambil guna memastikan hak pendidikan anak-anak di wilayah terdampak tidak terhambat lebih lama akibat kerusakan infrastruktur bangunan. Fokus utama dari rehabilitasi ini meliputi perbaikan ruang kelas yang rusak berat, pembersihan material sedimen, serta penggantian fasilitas belajar mengajar yang hancur diterjang arus air. Program ini merupakan bagian dari percepatan penanganan pascabencana nasional yang mengutamakan pemulihan fasilitas publik agar kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat dapat kembali normal secepat mungkin.
Berdasarkan jadwal yang dirilis oleh satuan tugas pembangunan daerah pada hari Rabu, 11 Februari 2026, pengerjaan fisik telah dimulai secara serentak di beberapa titik krusial, termasuk di wilayah Sumatra Barat dan Jambi yang mengalami dampak banjir paling signifikan pada musim penghujan lalu. Tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum bekerja sama dengan kontraktor pelaksana melakukan inspeksi struktur bangunan untuk memastikan keamanan gedung sebelum proses renovasi dimulai. Dalam pelaksanaan Proyek Rehabilitasi Sekolah ini, aspek ketahanan bangunan terhadap bencana di masa depan menjadi prioritas utama, dengan penggunaan material yang lebih kokoh serta penyesuaian elevasi lantai bangunan agar lebih tinggi dari potensi kenaikan debit air sungai di masa mendatang.
Guna mendukung kelancaran distribusi material bangunan ke lokasi sekolah yang seringkali berada di pelosok, jajaran kepolisian daerah setempat dan Babinsa dari unsur TNI dikerahkan untuk melakukan pengawalan ketat. Kapolres di wilayah terdampak menyatakan bahwa personel kepolisian disiagakan di sepanjang jalur logistik guna mencegah adanya hambatan di jalan serta memastikan material konstruksi sampai tepat waktu dan tepat sasaran. Selain itu, petugas kepolisian juga melakukan pengamanan di lokasi proyek untuk memberikan rasa aman bagi para pekerja bangunan yang bekerja dalam sistem lembur guna mengejar target penyelesaian sebelum tahun ajaran baru dimulai. Sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan percepatan proyek ini.
Pihak sekolah dan komite orang tua menyambut baik dimulainya pengerjaan ini, mengingat selama beberapa bulan terakhir siswa harus belajar di tenda darurat atau menumpang di rumah ibadah setempat. Dengan adanya Proyek Rehabilitasi Sekolah yang terukur dan transparan ini, optimisme mengenai kembalinya suasana belajar yang kondusif kian menguat.
